Fenomena Alam

Hemm… Tulisan ini cuma mau untuk sharing, jadi… -no offense, please-

Suatu ketika aku bertemu dengan sahabatku, sahabat dekat, sangat dekat.
Kami bertemu, saling menyapa dan menanyakan kabar.

“Subhanallah, apa kabar? Dah lama gak ketemu”, sambil aku menyeringai polos.
“alhamdulillah baek-baek aja kok”, jawabnya.

Akhirnya kami pun berbicara panjang lebar, dan akhirnya sampai ke suatu pembicaraan yang sungguh aku ingin berbagi dengan kalian.

“Yo, gue pengen cerita deh”, ungkapnya.
“Ape? Ente mau curhat ye?”, sambil aku sedikit terkekeh dan menggoda dia.

“Beberapa waktu yang lalu gue lagi deket dengan seorang wanita”‘
“Terus?”, sepertinya ini cukup serius, pikirku.

“Gini, gue deket banget sama dia dan mungkin aja bisa dibilang kalo kata orang-orang jaman sekarang tu, pacaran”.

“Ketika awal-awal jujur aja gue merasa melayang deh pokoknya, ibaratnya dunia milik berdua, yang lain ngontrak”.

“Apalagi dulu gue juga emang udah ada rasa sama dia.”

“Oke”, timpalku.

Lalu dia melanjutkan, “Tapi, itu semua ga berlangsung lama. Semakin lama gue kok merasa gelisah gitu ya. Entah gelisah tentang apa, tapi gue gelisah, sangat gelisah”.

“Tapi hubungan gue dengan dia masih berlanjut, bahkan gue juga udah dikenal sama orang-orang di rumahnya”.

“Tapi, rasa di hati ini semakin galau, galau, sangaat galau”.

“Gue merasa ada yang salah dengan ini.”

“Awalnya, ya oke gue merasa menemukan belahan jiwa, soulmate, dan bla bla bla hal seperti itulah, tapi gue merasa ada yang salah. gue seperti mendahului takdir”.

“Maksudnya?”, aku mulai tidak mengerti.

“Maksudnya gini, coba lo liat orang-orang yang pada pacaran, mereka saling ngingetin, sayang-sayangan, pegang-pegangan tangan, peluk-pelukan, bahkan terkadang sampe… Astagfirullah.”

“Coba bayangin, kalo orang pacaran pasti gini:
1. Nelpon atau sms-an buat janjian ketemuan buat makan bareng, hang-out bareng, pokoknya jalan bareng,
2. Habis itu mereka pas jalan bareng bakal makan bareng, nah ketika itu mereka cuma berdua saling bertatapan dengan tatapan penuh kasih sayang, bahkan mungkin terkadang sampe suap-suapan. (Terkadang di sini buat yang cowok bisa mulai berpikiran ngeres)
3. habis itu jalan pulang bareng, dan pastinya biar dianggap gentle si cowok bakalan nganterin sampe rumah
4. Sampe rumah akhirnya ada salam perpisahan, kalu yang pacarannya udah gaswat, salam perpisahannya bakal “fenomenal”.

“Nah, dari sana gue mulai berfikir. Ini ga bener, apa yang udah gue lakuin ini ga bener. Seharusnya hal ini boleh dilakuin cuma sama sepasang suami-istri, bukan gue sama dia yang hubungannya ga jelas”.

“Jujur aja ketika gue “pacaran” gue sangat menjunjung tinggi nilai “bukan muhrim”, jadi gue masih menjaga pandangan, membatasi diri, dan ga pernah mau gandengan tangan”.

“Tapi jangan salah, yang namanya udah kecebur, setan terus berusaha ngejerumusin gue”.

“Suatu ketika gue lagi jalan bareng dan entah gimana ga sengaja gue nyentuh tangan dia, dan itu tiba-tiba ada perasaan aneh. Ketika itu juga gue langsung istighfar sebanyak-banyaknya dan gue cepet-cepet jalannya biar cepet sampe rumahnya terus kabur”.

“Makin lama hati gue gelisah, fikiran tentang “Mendahului takdir” terus mengganggu. Akhirnya hal ini bikin gue jadi agak jauh sama dia, udah agak jarang ketemuan, agak jarang sms-an, agak jarang telpon-telpon-an, dll”.

“Terus waktu masuk bulan Ramadhan, di dalam hati gue udah ber-‘azzam untuk memperbaiki kualitas ibadah Ramadhan gue, tapi seketika itu seolah-olah ada yang teriak di telinga gue”.

“Woy, buat apa lo puasa, shalat tarawih, tahajud, kalo masih pacaran? Munafik tau! Mendingan ga usah aja sekalian.”

“Astaghfirullah, jujur aja gue kaget, bener-bener kaget, tersentak, dan terdiam. Gue cuma bisa bengong”.

“Beberapa saat setelah itu, selesai shalat, gue buka Qur’an gue, dan gue asal ngebukanya, dan gue masuk di surat An-Nur ayat 30 sama 31. Gue ta’awwudz, basmallah, terus mulai ngebaca dan udah jadi kebiasaan gue setelah baca qur’an berikutnya gue baca artinya”.

“saat itu juga gue langsung tersentak karena artinya, ” Katakanlah
kepada laki laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan
pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah
lebih suci bagi mereka,”

“Terus lanjutannya, “Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka.”

“Lalu, apa yang udah gue lakuin selama ini?”

“Betapa gue udah jauh dari tuntunan-Nya, dan ketika gue jauh itu gue merasa resah, sangat resah”.

“Akhirnya saat itu juga gue sms perempuan yang lagi deket sama gue, gue kasih penjelasan, dan akhirnya gue menyatakan untuk mengakhiri hubungan yang ga sehat ini.”

“Mulai dari sana gue sadar, bahwa pengalaman ini membuat gue harus banyak belajar. Gue yang dulu mungkin masih penasaran dan sedikit iri kalo ngeliat pasangan-pasangan yang lagi pacaran, sekarang malah berbalik, karena justru gue merasa miris melihat mereka. Mereka yang terikat dengan sesuatu yang semu, yang diperlihatkan sangat indah oleh setan itu.”

“Yang lebih miris lagi kalo gue liat orang lagi pacaran, terus yang perempuannya itu pake jilbab, entah jilbab entah kerudung”.

“Yang terbesit pertama kali di fikiran gue adalah, Dasar cowok brengsek!”

“Tapi beberapa detik setelah itu gue pun berfikir, perempuannya juga yang salah, kok mau-maunya dia dideketin sama cowok yang bukan muhrimnya, dipegang-pegang, astaghfirullah, kemanakah harga dirimu, kemualian dan keindahan yang Allah berikan untukmu, Mbak?”

“Yang seharusnya hanya bisa dinikmati oleh orang yang pantas menikmatinya dalam ikatan cinta Illahi yang suci, yang diajarkan Rasulullah dalam Islam.”

“Gue terkadang bingung dengan perempuan-perempuan yang minta dihargai dan dimuliakan tapi mereka ga bisa menghargai dan memuliakan diri sendiri”

“Dan gue juga terkadang kesel sama cowok-cowok yang, sorry, brengsek itu, mereka bilang mereka sayang ceweknya, mereka mau menjaga dan memuliakannya. Kalo emang lo mau menjaga dan memuliakan seorang cewek, seorang perempuan, yang notabene adalah “perhiasan”, maka cuma ada dua pilihan buat lo, tilnggalin dia atau nikahin dia, cuma itu jawaban buat cowok-cowok yang merasa ingin mencurahkan kasih sayang dan memuliakan seorang wanita”

“Yo, dari sana gue baru sadar sesadar-sadarnya betapa mulia wanita yang menjaga kehormatannya karena Allah, dia jaga itu semua untuk saat yang tepat”

“Gue salut sama perempuan-perempuan yang sudah mempersiapkan diri secara dini bagaimana mengelola rumah tangga, karena dari wanita baik-baik akan lahir manusia-manusia tangguh, para pejuang-pejuang di jalan Allah”

“Satu hal yang mau gue tekenin ke lo, Yo, kalo lo ada rasa dan ingin mecurahkan kasih sayang ke seorang wanita, maka jangan pernah ngedeketin dia secara tidak wajar yang melampaui apa yang udah dibatasi oleh Allah dan RasulNya. Dan kalo emang lo udah siap, nikahin dia. Cuma itu jawabannya, jujur, cuma itu jawabannya.”

“Untuk dapet jawaban itu, gue harus masuk ke jurang dulu, dan gue harap dengan sharing dari gue ini lo gak perlu masuk ke jurang yang sama”

“Satu hal, Yo. Perempuan itu sangat mulia, sangat mulia, sungguh sangat mulia, maka muliakanlah dia seperti Islam mengajari bagaimana memuliakan mereka.”

“Gue ga tau apakah gue bisa bertahan dengan pemahaman ini atau suatu ketika gue terjatuh lagi, tapi gue selalu berharap Allah selalu memberikan pemahaman dari segala sesuatu yang kita alami, dan semoga Dia selalu berkenan utnuk melindungi kita.”

“Amin”, hanya itu yang mampu aku ucapkan dari berbagai penjelasannya saat itu.

Setelah itu kami berjalan berdua, mencari kedai dan memesan teh hangat. Dan entah kenapa teh hangat itu terasa berkali-kali lipat lebih hangat dan lebih manis. Aku hanya mengucapkan istighfar berkali-kali dalam hati.

Allahu akbar, semoga Allah berkenan menghimpunkan kita di Jannah-Nya dan mengizinkan kita untuk memeluk Rasul yang mulia.

Depok, 18 April 2010 – 5 Jumadil Awwal 1430
Untuk seorang sahabat yang sangat dekat, sangat dekat, sungguh sangat dekat.

Advertisements

7 thoughts on “Fenomena Alam

  1. Iya, tapi apa jawaban yang tepat bila d tembak cowok?Takutnya cowok itu salah paham dan menyakitinya.Tambah lagi ternyata dia cowok baik dan disayang.Gimana cara menahan diri dari tidak pacaran sementara semua teman pamer cowok, jadi iri, huhuhu.

    • Alhamdulillah, terima kasih sdr/i Ola atas commentnya. Begini, memang cobaan “pacaran” itu sudah menjadi sebuah hal biasa di kalangan masyarakat kita. Mereka menganggap hal itu biasa-biasa saja, padahal besar dosanya di hadapan Allah swt. Mengapa besar dosanya? Karena menjurus dan kemungkinan besar akan terjadi zina. Entah zina mata, tangan, hati, bahkan hingga zina terbesar.

      Lalu, bagaimana dengan pacaran Islami? Nah, banyak sekali yg mecoba mencari-cari yang pertengahan, padahal apapun bentuknya pacaran adalah pacaran, dimana dua orang anak manusia yg bukan mahram itu saling berduaan (berkhalwat) entah di dunia nyata maupun di dunia maya.

      Mari kita lihat tujuan akhir dari hubungan antara pria dan wanita. Bukankah tujuan akhir kita itu untuk pernikahan, membangun keluarga yang indah, sehat, bahagia, dan menghasilkan anak keturunan yang saleh dan salehah? Jika iya, apa fungsinya pacaran? Untuk mengenal pasangan? Sama sekali tidak. Saya bisa pastikan pasangan yg sudah 10 tahun pacaran pun akan menemukan hal yg selama ini “disembunyikan” oleh pasangannya ketika mereka sudah menikah.

      Lalu, seandainya saja anda ternyata menjadi pasangan suami istri dengan pacar anda, lalu anda tumbuh kembangkan anak-anak anda. Lalu mereka tumbuh dewasa. Kira-kira pergaulan ketika mereka dewasa apakah masih seperti sekarang ini? Atau akan lebih bebas sebebas-bebasnya? Bisa jadi pergaulan anak muda di masa mendatang akan lebih parah daripada zaman kita ini. Lalu, suatu ketika anak anda membawa pacarnya pergi, sedangkan di luar sana banyak anak muda yg berzina dan tak peduli lagi dengan norma-norma agama. Lalu apa anda bisa menasehati anak-anak anda kelak? Sama sekali tidak. Mereka akan berargumen bahwa anda dan suami/istri anda dulu pun menikah karena pacaran. Lalu kenapa mereka tidak boleh melakukan hal yg sama. Ingatlah, saudaraku, zaman senantiasa berubah, tidak akan pernah sama.

      Jika kamu ingin dikasihi dan disayangi oleh pria/wanita pasanganmu, menikahlah. Jika belum siap bersabarlah. Bagaimana cara menjemputnya? Silakan simak pada artikel berikut:

      http://www.dakwatuna.com/2011/12/16923/saatnya-untuk-menikah/

      Bagaimana cara menjawabnya:
      1. Jika kamu memang siap untuk saling menyayangi, maka mintalah dia untuk melamarmu.
      2. Jika kalian belum siap, itulah tanda bahwa kalian memang belum siap untuk saling mencintai.

      Percayalah, laki-laki sejati itu adalah yg berani melamar seorang wanita di hadapan orang tua/walinya, bukan “menembak”-nya secara langsung. Sesungguhnya Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui, saudariku.

      Wallahua’lam bish-shawwab.

    • Tidak perlu iri dengan mereka yang memamerkan kemaksiatan, mari kita ingat firman Allah swt:
      “…Dan setan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari Allah sehingga mereka tidak mendapat petunjuk.” (Q.S.: An-Naml:27)

      dan ini juga:

      Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Q.S: ‘Ali-Imran:3)

      Semoga bermanfaat. Bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar.

      Wallahua’lam bish-shawwab.

      • Jawaban n sarannya dua2nya menyejukkan.Dilamar?mungkin tidak sekarang krn blm siap dan ingin menyelesaikan kuliah dan cari kerja dahulu.InsyaAllah jika sudah waktunya Allah akan mempertemukan.Amin
        Kadang2 kalau tidak diingatkan memang timbul rasa iri.Moga kita selalu sabar n saling mengingatkan.Amin
        Terimakasih atas jawabannya:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s