Susu Jahe Hangat dan Aku Diam

Malam itu gerimis rintik-rintik. menyisakan remah2 hujan deras sore tadi. Dingin yang mencekat memaksa aku dan temanku masuk ke dalam kedai. Ku pesan segelas susu jahe hangat, begitupun dia. Kedai itu tampak kusam. Seperti biasa, warung kecil di pinggiran perbatasan antara depok dan jakarta, menyisakan kelelahan dan kepenatan ibukota. Ku lihat sang pedagang, sorang bapak tua separuh baya dengan kaos yang sudah agak lusuh namun dengan mata yang masih berbinar, berusaha berkata, “Dunia, kau tak mampu kalahkan aku, tak kan mampu kalahkan tekadku!”.

Akan tetapi, dia tak mampu tutupi kelelahan di wajahnya.

Beberapa saat kemudian susu jahe hangat itu selesai diracik. Semerbak jahe menusuk hidungku, terutama ketika pemilik kedai itu menyodorkan susu jahe hangat itu di depan hidungku. Sedap, nikmat. ku coba untuk menyesap minuman hangat itu. Nikmat. Rasa manis langsung menyejukkan lidahku dan hangatnya jahe seketika menghangatkan tubuhku.

Tak lama saat ku sedang menyesap dan meneguk minumanku, ada seorang wanita separuh baya yang masuk ke dalam kedai, sepertinya adalah tetangga pemilik kedai. Lalu wanita itu berkata, ” Pak, utang saya yang kemarin lima belas ribu ya?”

“boleh aku utang lagi? di rumah cuma ada lima belas ribu, itu juga cuma buat ongkos besok”.

Seketika aku terhenyak. Susu jahe yang menghangatkan tubuhku seketika membuat semua sendiku menggigil. Aku teringat sesuatu… sesuatu….

Aku terdiam, tercekat, seolah-olah waktu berhenti berdetak atau setidak-tidaknya sangat lambat berdetak, sehingga aku mampu merasakan degup jantungku yang tidak teratur.

Aku diam.

Tanpa banyak bicara pemilik kedai itu memberikan sejumlah uang kepada wanita itu.

Dan.

Aku Diam. Sesuatu…. sesuatu… aku teringat sesuatu…. Terasa lelehan hangat di pipiku…

Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung.

Kurasa aku tak perlu mengungkapkan pesan apa yang terkandung di sini.

Mari bermuhasabah , teman….

Hidupmu, hidupku, tak sendiri… Ada amanah besar dan tanggung jawab tanpa henti dari awal nafas ini menghembus, hingga habis waktu kunjungan di dunia ini…

Dan Aku tetap terdiam.

 

Depok, 28 Oktober 2009 – 10 Ramadhan 1430

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s