Dakwah Rasulullah dalam Distribusi Normal Moore

 

 

Hal-hal baru, produk-produk baru, atau teknologi baru memiliki grafik adopsi dalam bentuk distribusi normal yang dijelaskan oleh Geoffrey Moore, seperti di bawah ini:

Image

Grafik ini sering digunakan untuk analisa perusahaan yang akan mengeluarkan teknologi baru, bahwa mereka harus siap dengan penerimaan pasar yang kurang lebih digambarkan oleh Moore seperti pada grafik di atas. Dilihat dari distribusi di atas, menjadi hal yang sangat menarik jika kita bandingan kurva adopsi teknologi ini dengan perjalanan da’wah Rasulullah SAW.

Islam sebagai the new, even weird, way of life pada zaman jahiliyah pemuja berhala dapat kita ibaratkan sebagai sesuatu yang “baru”, aneh, asing, dsj. Saat tuhan (atau sekutu tuhan) terbuat dari batu, bahkan makanan, tiba-tiba seorang laki-laki dari golongan mereka sendiri mengatakan bahwa tuhan itu satu tanpa ada sekutu untuk-Nya. Pernyataan yang dirangkum dalam kalimat sederhana ini menjadi sebuah diksi yang memojokkan budaya, berada pada posisi yang terlalu tinggi yang bahkan tidak pernah dibayangkan oleh masyarakatnya, hingga bahkan menjadi sebuah lelucon terbodoh yang tidak masuk akal.

Asingnya ajaran Islam, barunya ajaran Islam, dan “anehnya” ajaran Islam tentu saja mendapat reaksi yang beragam dari masyarakat Quraisy pada khususnya dan masyarakat Arab pada umumnya. Nah, menjadi menariklah ia jika kita telaah sedikit seperti bagaimana Moore menjelaskan “persebaran reaksi penerimaan masyarakat terhadap “hal” baru”.

Di dalam grafik distribusi normal tersebut Moore membagi beberapa wilayah kurva menjadi tipe-tipe pengadopsi “teknologi baru”, yaitu:

1. Innovators

The Innovators” adalah mereka yang memiliki komitmen dan respon tercepat terhadap teknologi-teknologi/hal-hal baru. Mereka adalah para pioneer, avant garde, dan inspirator terhadap manusia lainnya. Begitu pula yang terjadi pada masa ketika Jibril AS mendatangi Rasulullah di Gua Hira, menyampaikan wahyu pertama dan menjadi sebuah titik perubahan terbesar terhadap masa depan dunia. Pada fase sangat awal ini tidaklah banyak yang menerima kebenaran da’wah Islam. Bunda Khadijah RA, wanita mulia yang menyelimuti dan menenangkan seorang Rasul beberapa saat setelah tugas terberat dibebankan kepada seorang laki-laki yang mulia, jujur, dan terpercaya. Beliau pulalah yang menjadi penyokong da’wah di masa-masa kelahirannya.

 “Innovators” berikutnya adalah ‘Ali bin Abi Thalib RA. Kemurnian hati seorang pemuda secerdas ‘Ali membuat Allah mengizinkan ia menjadi bagian dari orang-orang yang pertama tersinari hatinya dengan cahaya Islam. Ia pulalah yang kelak akan menggantikan posisi Rasulullah SAW di tempat tidur beliau dengan ancaman nyawa yang akan melayang. ‘Ali jugalah remaja pertama yang menerima Islam menjadi pedoman hidupnya.

Yang masuk Islam dari kalangan keluarga Nabi Muhammad SAW berikutnya adalah adalah Zaid bin Haritsah, lalu berikutnya adalah Abu Bakar bin Abi Quhafah. Seseorang yang mendapatkan gelar “Ash-Shiddiq” dari Rasulullah SAW, yang senantiasa membenarkan apa yang disampaikan Rasulullah SAW dan ia yang menemani Rasulullah dalam kejaran kaum kafir Quraisy ketika hendak berhijrah ke Madinah.

Mereka adalah “The Innovators”, orang-orang yang sangat pertama menerima da’wah Rasulullah SAW, yang berkorban dari awal mula, hingga menjadi inspirator bagi manusia lainnya. Jumlah mereka? Tidak banyak, hanya segelintir saja. Namun kualitas keimanan mereka: melampaui orang-orang di sekelilingnya. Mereka adalah fondasi-fondasi utama da’wah, memiliki hati yang murni, dan tentu saja militansi yang tak tertandingi.

2. Early adopters:

Early adopters” adalah mereka yang bergabung dengan gerbong da’wah setelah fase bergabungnya “the innovators”. Salah satu contoh yang dapat kita ambil adalah da’wah Abu Bakar di masa awal perjuangan Islam. Beberapa sahabat yang berislam setelah bersentuhan dengan da’wah Abu Bakar, antara lain: ‘Utsman bin Affan, salah satu saudagar dari kalangan kaum Quraisy yang memiliki kesantunan perangai yang begitu lembut. Memperoleh gelar mulia karena menikah dengan dua putri Rasulullah SAW, yaitu Dzun Nurain. Dan kelak di masa mendatang menjadi salah satu dari khulafaur-rasyidin.

Sahabat berikutnya yang memeluk Islam setelah senantiasa berhubungan dengan da’wah Abu Bakar adalah Zubair bin Awwam yang ketika memeluk Islam belumlah baligh. Ibunda Zubair pun, Shaffiyah binti Abdil Muthalib jua memeluk Islam.

Seorang saudagar yang juga akhirnya memeluk Islam di fase setelah berislamnya “the innovators” adalah Abdurrahman bin ‘Auf. Abdurrahman bin ‘Auf termasuk salah satu sahabat yang diberi kabar gembira berupa surga oleh Rasulullah SAW.

Salah seorang sahabat yang memeluk Islam karena kerja-kerja da’wah Abu Bakar adalah Sa’ad bin Abi Waqqash. Ia mengalami cobaan yang juga berat karena Ibundanya mengancam dengan melakukan mogok makan. Begitu gundahnya Sa’ad melihat perihal Ibunya, namun kecintaannya kepada kebenaran takkan pernah tergoyahkan.

Tersebutlah Thalhah bin Ubaidilah yang juga merasakan nikmatnya Islam setelah mendapatkan seruan dari Abu Bakar. Sebelumnya Thalhah memang sudah mendengar tentang kehadiran Nabi akhir zaman dari para pendeta Yahudi dan saat ia bertemu Abu Bakar dan diajak kepada Islam, maka hidayah itu dengan mudahnya menyelusup ke dalam fitrah hati kecilnya yang terdalam, kuat, menjejak, memantapkan ketauhidan bahwa tiada tuhan selain Allah.

Jua tak mungkin terlupa dari goresan emas dalam pena sejarah tentang budak hitam yang kemurnian hatinya begitu putih jauh melebihi manusia di zamannya, ialah Bilal bin Rabah. Ketika teriknya mentari padang pasir, sabetan cemeti, dan batu yang membeban pada tubuhnya yang telah lemah untuk memaksa dirinya berujar tentang kemusyrikan, namun balasannya hanyalah kalimat tauhid yang terucap lirih namun menggetarkan asa para penyiksanya, “ahadun ahad”. Hingga akhirnya Abu Bakar mendatanginya, membelinya dari tuannya, lalu memerdekakannya. Keteguhan hatinya terhadap kebenaran mengantarkan kabar gembira dari Rasulullah SAW bahwa  terompah Bilal telah mencapai surga.

Beberapa sahabat lainnya yang dapat kita masukkan ke dalam fase ini antara lain adalah Abdullah bin Mas’ud, ‘Amru bin Absah as-Sulami, dan Abu Dzar al-Ghifari.

3. Early majority:

Penyiksaan, ancaman, pembunuhan, dan teror di tempat-tempat umum di kota Makkah yang diderita oleh kaum Muslimin kala itu tidak menyurutkan dakwah Islam, namun justru semakin banyak penduduk Makkah yang memeluk agama yang membawa manusia dari kelamnya kebodohan menuju terangnya cahaya iman.

Kualitas dan kuantitas kaum Muslimin di Makkah pun semakin meningkat semenjak berislamnya ‘Umar bin Khattab. Seiring berjalannya waktu pun ternyata datanglah suku ‘Aus dan Khazraj dari Yatsrib untuk berbai’at kepada Rasulullah SAW. Pada fase ini semakin banyak yang bergabung di gerbong da’wah. Mari kita sebut mereka sebagai “the early majority”.

4. Late majority:

Setelah peristiwa bai’atul aqabah kaum Muslimin diperintahkan untuk berhijrah ke Yatsrib. Di sana Islam hadir dalam bentuk yang kokoh, nyata, dan sangat berwibawa: negara. Hukum, aturan, pendidikan, dan seluruhnya dipimpin penuh oleh Rasulullah SAW dengan bimbingan wahyu dari Allah SWT. Di fase ini pun semakin banyak kabilah Arab yang bergabung dengan barisan da’wah, termasuk tokoh-tokoh kafir Quraisy sekaliber Khalid bin Walid sang panglima dan ‘Amru bin Ash sang diplomat, dan ‘Utsman bin Thalhah. Mereka terklasifikasi menjadi “the late majority”.

5. Laggards:

Laggards” atau “the late comers” mereka yang memeluk Islam di saat Islam sudah memperoleh kemenangan yang sempurna, yaitu saat Fathu Makkah. Kesombonganlah yang membuat mereka enggan berislam dengan segera, seperti Abu Sufyan bin Harb. Atau karena kebencian akan terbunuhnya bapak-bapak mereka seperti ‘Ikrimah bin Abu Jahal yang bahkan masih berusaha memerangi pasukan kaum Muslimin saat Fathu Makkah, meskipun ia tahu bahwa kekuatannya sama sekali tidak seimbang. Fathu Makkah membuat gentar kaum kafir Quraisy karena tokoh-tokoh mereka sudah banyak yang gugur di medan perang atau sudah bergabung dengan barisan Rasulullah SAW, sehingga mereka hanya bersisa “sedikit” saja.

 

Mungkin pengertian-pengertian atau pun penjelasan-penjelasan tentang distribusi “penerima teknologi baru” dari Moore tidaklah terlalu sama dengan latar belakang para sahabat mulai memeluk Islam/penerimaan generasi awal terhadap Islam, karena alasan mendasar mereka memeluk Islam adalah karena hati mereka yang sudah terbuka dan tercurahkan hidayah, sedangkan penjelasan Moore tentang lima tipe di atas beberapa di antaranya berbasiskan profit, materi, dsj. Namun hal ini dapat dijadikan gambaran bahwa seperti inilah kurang lebih da’wah akan direspon. Akan ada mereka yang hatinya sangat mudah beresonansi dengan kebenaran sehingga menjadi main core, ada pula mereka yang tidak terlalu cepat merespon dan bergabung dengan da’wah namun termasuk orang-orang yang pertama menjemput kebenaran. Ada pula mereka yang pun akan bergabung namun tentu saja membutuhkan waktu dan kerja-kerja da’wah yang butuh kesabaran dan ketelatenan. Meskipun begitu merekalah yang menjadi pengisi terbesar. Serta, akan ada sekelompok orang yang akhirnya bergabung dengan da’wah ini karena sudah “tidak ada pilihan lain”, saat da’wah sudah berada pada kemenangannya. Apapun itu, perhitungan Allah akan senantiasa sempurna terhadap apapun usaha yang dilakukan oleh hamba-hamba-Nya.

Wallahu a’lam.

*Tulisan iseng :D*

Jakarta, 20/09/13. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s