Melangitlah, Nak!

Image

 

 

Masih seperti biasa, pagi itu puluhan manusia berdesakan di sebuah halte busway Jakarta. Pemandangan harian yang mungkin sudah sama rasanya seperti nasi yang senantiasa dikunyah kurang lebih 3 kali sehari. Dan roda perjalanan itu senantiasa berputar tak peduli pada usia yang berlalu dan terbuang. Manusia urban yang nyata, bertumpuk pada padatnya aktivitas dunia, semoga Allah senantiasa menjadi penjaga hati-hati yang mendamba perjumpaan di surga.

Kisah sederhana ini tentang seorang pria yang teradu dalam deru roda kehidupan kota, menjalaninya, membersamainya. Aku melihatnya, ia senantiasa ada pada pagi-pagi yang sama di puncaknya aktivitas jalanan Jakarta. Seorang Bapak yang kutaksir belum begitu tua, mungkin kepala tiga. Ia selalu ada di tiap pagi, namun tak sendiri. Berdua. Bersama anaknya. Anak kecil laki-laki berkostum putih-merah dan menyandang ransel kecil yang menarik.

Ya, bapak ini dalam tiap harinya mengantarkan sang buah hati ke sekolah dengan menggunakan busway. Terkadang busway yang ia (dan saya) tumpangi penuh sesak atau terkadang agak lengang. Terkadang bapak dan anak itu berdiri atau terkadang duduk dan terpangkulah si kecil berbalut seragam itu. Sekali-dua kali mereka bercanda berdua, menikmati waktu-waktu bersama, yang beberapa tahun lagi bisa jadi tidak akan mereka rasakan berdua. Dan satu hal yang pasti, mereka senantiasa turun di Halte Pedati.

Satu hal yang agak berbahaya dilakukannya, turun langsung dari halte tanpa melalui anak tangga, menyeberangi jalan raya yang kepadatan kendaraannya tak lagi bisa ditampung Jakarta. Ia gendong anaknya turun dari halte, menuntunnya menyeberang, lalu melanjutkan perjalanan hingga gerbang sekolah terlihat dengan nyata. Semua itu ia lakukan dalam tiap harinya, penuh cinta.

Banyak sekali anak-anak yang sedari kecil sudah dilepas oleh orang tuanya untuk menggunakan angkutan umum ke sekolah, namun beberapa orang tua belum rela melepas begitu saja, lalu mereka senantiasa mengantar dan menjemput anak-anak dengan angkutan umum.

Juga ada orang tua yang menyewa jasa antar-jemput kendaraan ke sekolah, bergabung bersama wali murid lainnya dan membayar biaya jasa bulanan. Ini terasa jauh lebih aman dan nyaman, serta lebih tenteram terasa di hati karena perjalanan sang buah hati terjamin pulang dan pergi. Ini pun menjadi sarana pembelajaran yang cukup baik bagi anak-anak untuk dapat bergaul dengan teman-teman sekolahnya.

Atau bagi mereka kalangan menengah ke atas yang telah menyiapkan satu unit mobil dan seorang supir pribadi untuk antar-jemput anaknya. Satu anak satu mobil. Sangat aman, sangat nyaman. Namun merekalah yang ikut andil dalam semakin bertumpuknya kendaraan di kota kita tercinta. Ada satu siasat yang bisa dilakukan, mengikutsertakan rekan-rekan satu sekolah anak tersebut dalam kendaraan yang sama, supaya dapat terpenuhi kursi-kursi di kabin mobil itu dengan sempurna. Namun jika ia tinggal di kompleks perumahan mewah dan hampir seluruh anak-anak di sana terfasilitasi satu anak satu mobil, maka lupakan saja siasat sederhana tadi. Satu hal yang dikhawatirkan pada anak yang sudah menyicip mudahnya fasilitas satu anak satu mobil adalah, ia akan merasa cepat puas dan berada pada kondisi nyaman yang bisa jadi akan melemahkan daya juangnya untuk berkecimpung dalam kehidupan mandirinya di masa mendatang kelak. Padahal belum tentu ia akan senantiasa merasakan kenyamanan fasilitas itu selamanya.

Kembali kepada bapak tadi yang memilih untuk setiap hari mengantarkan anaknya ke sekolah. Mungkin ini adalah salah satu cara bagi bapak ini untuk dapat senantiasa bercengkrama dengan sang buah hati dalam padatnya keseharian Jakarta yang tak pernah mati. Bagaimana ia melihat tumbuh kembang anaknya sedikit demi sedikit, dan menikmatinya.

Membaca kisah ini bisa jadi akan memutar memori saya, Anda, kita, ke belakang, pada ayah yang senantiasa menemani dulu saat kita juga masih berbalut putih-merah yang sederhana. Ayah, ialah sosok yang paling hebat menyembunyikan resah dalam dadanya, untuk tujuan sederhana, agar anak-anaknya tetap tersenyum menatap cerahnya dunia. Ayah, ialah sosok yang paling keras berjuang bertaruh nyawa, untuk tujuan sederhana, agar masa depan anak-anaknya benderang lebih dari apa yang ia rasakan. Ayah, ialah sosok yang berkilau melebihi cemerlangnya mentari di kala dhuha, karena ia tak pernah mempertanyakan padamu apa yang telah ia berikan dalam sisa-sisa umur dan kekuatannya.

Setiap ayah mungkin ingin menyampaikan satu hal untuk anak-anaknya, yang terkadang hanya bisa terbaca dari besit sederhana tatap matanya, “Nak, melangitlah! Karena pesona rembulan tak cukup untukmu yang seharusnya memeluk gemintang. Dan tetaplah menunduk kepada Tuhan, karena itulah esensi nyata dari hadirmu di dunia”.

Jakarta, 25/09/13.

Sumber gambar: http://www.epibeat.com/article-summaries/evidence-for-paternally-inherited-epigenetic-modifications/782/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s